Kembali ke Beranda
Refleksi Diri

Di Hadapan Seorang Anak Bernama Kesya

A
A. Syahruni Aryanti
July 27, 2026  •  1 week ago
234 dibaca
Di Hadapan Seorang Anak Bernama Kesya
Saya tidak berada di sana saat semuanya terjadi.
Tapi entah mengapa, bayangan itu terasa begitu dekat
seolah saya berdiri beberapa langkah dari seorang anak kecil… yang kehilangan dunia dalam semalam.

Namanya Kesya.

Saya membayangkan dia berdiri di antara orang-orang dewasa yang perlahan menjauh.
Langit mungkin masih gelap, atau mungkin sudah mulai terang
tapi bagi Kesya, waktu seperti berhenti di satu titik yang sama.

Di depannya, seseorang terbaring diam.

Dan ia memanggil, dengan suara yang tidak pernah diajarkan bagaimana cara menahan sakit:

“Ayah…”

Tidak ada jawaban.

Ia mungkin menarik baju orang di sampingnya.
Mungkin mencoba memahami kenapa ayahnya tidak bangun.
Mungkin berpikir ini semua hanya permainan yang terlalu lama.

Tapi ini bukan permainan.

Dan dunia, untuk pertama kalinya, menjadi tempat yang sangat asing baginya.

Saya mencoba menempatkan diri di sana
melihat dari ketinggian matanya,
merasakan dari kepolosan yang belum sempat mengerti kejamnya manusia.

Bagi kita, ini mungkin berita.
Satu peristiwa.
Satu angka dalam deretan kejadian.

Tapi bagi Kesya, ini adalah retakan pertama yang akan ia bawa sepanjang hidupnya.

Ia tidak tahu apa itu salah.
Ia tidak mengerti apa itu pencurian.
Ia tidak paham mengapa begitu banyak orang merasa berhak mengambil sesuatu yang bukan milik mereka
nyawa ayahnya.

Dan di titik itu, saya merasa… kita semua gagal.

Kita gagal menahan amarah.
Kita gagal mempercayakan hukum.
Kita gagal menjadi manusia yang seharusnya melindungi, bukan menghakimi.

Yang paling menyakitkan bukan hanya tentang satu nyawa yang hilang.
Tapi tentang seorang anak kecil yang harus belajar terlalu cepat
bahwa dunia bisa sekejam ini.

Kesya mungkin akan tumbuh.
Ia akan berjalan, bersekolah, tertawa di waktu-waktu tertentu.
Tapi ada satu ruang dalam dirinya yang akan selalu kosong
ruang yang hanya bisa diisi oleh seseorang yang ia panggil “ayah”.

Dan ruang itu… telah direnggut.

Di sinilah harapan itu saya letakkan
bukan hanya pada hukum yang menghukum,
tapi pada negara yang benar-benar hadir.

Hadir untuk memastikan tidak ada lagi massa yang merasa lebih berkuasa dari keadilan.
Hadir untuk melindungi yang lemah sebelum mereka menjadi korban.
Hadir untuk anak-anak seperti Kesya—
yang tidak pernah memilih untuk menjadi bagian dari tragedi.

Semoga mereka yang terlibat diproses, diadili, dan dipenjarakan sesuai hukum.
Bukan sebagai balas dendam,
tetapi sebagai penegasan bahwa kita masih punya batas sebagai manusia.

Dan semoga negara tidak datang terlambat lagi.

Karena bagi seorang anak yang berdiri memanggil ayahnya yang tak lagi menjawab,
keadilan yang datang setelah semuanya berakhir…
tidak akan pernah benar-benar terasa utuh.
Simpan