Saya menekan klakson beberapa kali, berusaha memajukan ban mobil di setiap ruang kosong hingga melewati garis batas lampu merah ini, seolah-olah kebisingan dan ketidaksabaran saya bisa meretas mekanisme arus listrik dan merubah lampu merahnya menjadi lampu hijau agar saya bisa kembali jalan.
Ini adalah kebodohan mekanis di atas aspal, yang ironisnya, selalu saya replikasi secara presisi dalam cara saya menjalankan hidup.
Saya benci dihentikan. Ketika takdir—entah berupa kegagalan, penolakan, sakit atau kebangkrutan—memaksa saya berhenti, saya mulai membunyikan klakson bising di kepala saya sendiri. Saya mengutuk keadaan, meronta karena merasa waktu saya terlalu berharga untuk dijeda, dan merasa gengsi untuk membiarkan orang lain mendapatkan giliran melaju lebih dulu. Ego saya menolak kenyataan bahwa dunia berputar bukan hanya untuk melayani jadwal saya.
Lampu merah ini tidak pernah dipasang untuk memenjarakan saya. Ia dipasang murni untuk mencegah saya mati konyol.
Di persimpangan hidup, ambisi saya sering kali melaju buta. Saya memaksakan rencana yang sebenarnya masih mentah, dan mengejar target dengan kapasitas mental yang sudah habis. Jika sistem tidak menampar saya dengan jeda paksa, saya pasti sudah menginjak pedal gas dalam-dalam hingga hancur bertabrakan dengan realitas.
Dipaksa mandek ternyata adalah cara semesta menyelamatkan nyawa saya dari kesombongan saya sendiri.
Bersedia diam sejenak di belakang garis batas, menahan gengsi, dan menonton orang lain lewat lebih dulu sama sekali bukan sebuah kekalahan. Itu adalah kewarasan—sebuah mekanisme pertahanan untuk memastikan bahwa saat giliran saya tiba nanti, saya melangkah dalam keadaan utuh, bukan sebagai rongsokan.