Kembali ke Beranda
Kecemasan

Esau dan Tuhan yang Memberinya Makan

Anonim
August 4, 2026  •  1 day ago
11 dibaca
Esau dan Tuhan yang Memberinya Makan
Di tengah Samudra Pasifik selama 26 hari. Sendirian, di atas perahu kecil. Di mana kematian hanyalah menunggu antrean dari list malaikat maut. Perahu itu sama sekali tidak terdeteksi oleh radar atau sistem navigasi kapal-kapal raksasa yang lewat. Anda benar-benar tidak terlihat. Hilang sepenuhnya dari jangkauan dunia.
Begitulah kenyataan hidup yang harus dihadapi oleh seorang nelayan paruh baya bernama Esau Sidemo, 55 tahun, asal Ternate. Suatu malam pada Juli 2026, mesin perahu "papalele"-nya mati saat ia sedang memancing. Badai menyeretnya jauh ke utara, ke perairan terbuka yang tak bertepi. Selama hampir sebulan, dunianya menyempit hanya menjadi langit biru dan laut biru, di atas perahu yang tidak lebih besar dari meja makan.
Bertahan dan menyerah bukan lagi sebuah pilihan. Logika manusia pasti akan menuntut hasil yang masuk akal, tapi di tengah laut, tidak ada yang masuk akal. Esau bercerita bahwa ia bertahan hidup dengan cara yang tidak bisa dijelaskan. "Tuhan yang kirim makanan, sehingga saya merasa kenyang." katanya kepada keluarganya. Ia hanya makan sedikit nasi yang tersisa dan meminum air laut yang dicampur sedikit gula yang ia bawa, serta menampung air hujan. Di titik itu, ia tidak lagi berusaha melawan nasib. Ia berserah sepenuhnya.
Setiap malam, lampu-lampu kapal cargo raksasa adalah satu-satunya tanda kehidupan yang ia lihat. Esau melihat mereka, tapi bagi kapal-kapal itu, Esau tidak ada. Tidak terlihat di radar, tidak terdeteksi navigasi.
Namun, di sinilah "Tuhan yang Memberinya Makan" menunjukkan jalan-Nya. Pada hari ke-26, kapal kargo MV LADY OF LUCK, dalam perjalanan dari Australia menuju Tiongkok, sedang melintasi perairan antara Palau dan Mindanao, Filipina. Bukan kecanggihan sistem radar yang mendeteksi Esau. Tapi, mata seorang kru kapal secara kebetulan melihat sesuatu yang mengapung di kejauhan. Sebuah perahu kecil. Esau pun akhirnya dievakuasi dengan selamat.
Kisah penyelamatan Esau adalah sebuah pengingat yang sangat keras bagi kita semua. Mungkin saat ini kita tidak sedang terdampar di tengah lautan luas. Tapi, coba kita jujur pada diri sendiri. Berapa sering kita merasa 'hilang' dan sendirian di tengah kerasnya rutinitas hidup?
Berapa sering kita merasa masalah datang bertubi-tubi, beban menumpuk, dan tidak ada satu pun orang di sekitar kita—atau "radar" mana pun—yang menyadari betapa lelah dan takutnya kita? Kita merasa kecil, tidak terlihat, dan tenggelam perlahan-lahan dalam kesepian.
Di momen-momen gelap seperti itu, insting pertama kita biasanya adalah panik. Kita memaksa otak bekerja keras mencari jalan keluar. Kita meronta, menyusun rencana A sampai Z, hingga akhirnya kita kehabisan napas dan tenaga kita sendiri.
Padahal, dari cerita Esau, kita diingatkan pada satu hal: kadang-kadang, cara terbaik untuk selamat dari badai bukanlah dengan melawannya mati-matian, melainkan dengan berhenti meronta dan berserah sepenuhnya.
Karena pada akhirnya, Tuhan yang melindungi Esau di tengah samudra yang sepi, adalah Tuhan yang sama yang memelihara kita di tengah badai kehidupan.
Simpan