Ditinggal cinta pertama semenyakitkan itu, ayah menyaksikan nafas pertamaku dan aku menyaksikan hembusan nafas terakhirnya.
Tepat adzan subuh berkumandang. Badan gemetar tapi suaraku seperti hilang dan duniaku juga terasa ikut pergi.
185 hari, berusaha mengobati diri sendiri dengan keikhlasan dan ketabahan yang menjadi keyakinan sebagai pondasi iman dan takwa sebagai hamba.
Namun perjalanan ini tidak mudah, kupikir setelah 1 bulan berlalu harus tetap tinggal menemani ibu. Namun nafasku semakin terasa sesak, melihat barang peninggalan ayah, setiap jejak diruangan rumah yang ditinggalkan, serta setiap jalan dan mendengar sirene ambulans aku tiba-tiba berteriak dan membuatku semakin takut kehilangan yang sebenarnya bukan milik kita. Kehilangan ini menjadi pengingat bahwa setiap apa yang ada di dunia ini hanyalah titipan, termasuk manusia yang akan kembali kepada NYA.
Aku memberanikan diri melanjutkan perantauan di Ibu Kota, jauh dari ibu. Namun hal ini adalah salah satu Ke Ridhoan almarhum ayah yang terkahir kali aku berpamitan dan melihat ia menangis dihadapan ku sebelum iya sakit. Sosok yang selalu mendukung langkahku untuk melanjutkan studi, sosok yang sepenuhnya percaya bahwa aku bisa menjaga keluarga sekaligus menjadi tulang punggung keluarga.
Dan akhirnya aku mengingat, waktu 3 hari sebelum kepergiannya, almarhum ayah bilang "kamu harus sukses, kusayang semua anakku, tidak ada saya tinggalkan dosanya anakku, saya maafkan semua", diwaktu itu Tuhan memberikan ayahku kesempatan dalam keadaan sadar saat berbicara padahal 7 hari berlalu ingatan dan kesadaran nya sudah mulai terganggu.
Tak bisa ku pungkiri, bahwa sakit yang paling membekas hingga saat ini adalah di hari-hari terakhir aku merawatnya.
Kalau boleh minta sama Tuhan, tidak ada anak yang ingin menjadi yatim atau piatu. Tapi siapapun kita tetap akan menjalani siklus kehidupan yang sama.
Kejadian itu juga semakin memberikan pelajaran tentang makna hidup yang harus selalu bersyukur dan ikhlas. Jika masih punya Ibu adalah kesempatan yang tidak akan terulang agar bagaimana bisa selalu memberikan perhatian dan kasih sayang, sebagaimana 26 tahun hidup ini ibu selalu memberikan perhatiannya.
Dan salah satu bentuk cinta paling besar adalah mendoakan. Mendoakan orang tua, salah satunya ayah yang telah lebih dulu berpulang kepangkuan Ilahi.
Jadi, sakit dan rasa trauma ini yang belum sepenuhnya sembuh dan kadang mengganggu kefokusan ku, tiba-tiba berteriak dan memicu insomnia terus menerus. Karena sejak awal kehilangan, setiap aku mau tidur selalu membayangkan sosok almarhum ayah ketika masih hidup. Hingga 185 hari berlalu masih berada pada fase pemulihan diri.
Aku masih yakin bahwa aku bisa mengobati diriku sendiri, tanpa bantuan psikiater. Aku selalu berusaha menyibukkan diri dengan hal apapun.
Al-Fatihah untuk diri sendiri yang terus berjuang..
Al-Fatihah untuk Almarhum ayah, cinta pertama yang abadi.